Tiga hari sudah idul fitri lewat, seperti hari-hari lain hari ini Aku hanya diam diri dirumah. Hal yang membosankan memang tapi ya harus bagaimana lagi, di puncak seperti daerah rumahku ini liburan merupakan hari yang sangat padat, karena hampir dari pagi sampai malam kendaraan yang lalu-lalang tak pernah berhenti. Lebih dari itu lalu—lintas selalu saja macet. Untuk menghilangkan rasa bosan, Aku membantu mamaku untuk melayani pembeli yang datang ke toko. Tapi belum lama aku membantu rasa bosan sudah hinggap di diriku. Untuk itu Aku berniat untuk masuk ke kamar saja, disana Aku menjatuhkan diri di tempat tidur dan membuka-buka majalah yang tergeletak di atas meja belajar. Agar hari ini tidak terlewat dengan sia-sia lebih baik Aku mengerjakan sesuatu yang lebih bermanfaat, pikirku dalam hati.
Setelah itu Aku berencana mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru disekolah kepadaku. Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, jam dinding dikamarku menunjukan waktu untuk shalat dzuhur. Aku bergegas mengambil wudhu. Setelah melaksanakan shalat Aku membereskan tumpukan buku-buku, dan pergi keluar kamar. Selayaknya makhluk hidup lainnya, Aku bergegas mencari mangsa untuk ditangkap. Aku mengobrak-abrik lemari di dapur, mencari sesuatu yang layak untuk di santap dan akhirnya ada juga mangsa yang harus diserbu. Terlihat ayam goreng kesukaanku. Segera Aku mengambilnya dan memakannya dengan lahap.
Setelah merasa lebih baik, Aku pergi untuk menonton tv di ruang tengah. Aku duduk sambil mengunyah makanan tapi acara-acara di tv sangat membosankan Aku terus memindahkan chanel tv dari satu sampai kembali lagi ke chanel awal. Tapi tetap saja tidak ada acara yang mengasyikan. Daripada Aku diam disini lebih baik Aku pergi ke kamar pikirku lagi. di dalam kamar Aku putuskan untuk membaca novel yang baru aku beli. Siang itu Aku habiskan untuk membaca novel.
Cahaya senja membangunkanku, terpaksa Aku membuka mataku yang masih ingin terpejam. tenyata tanpa terasa saat Aku membaca novel Aku tertidur. Aku mengalihkan pandanganku untuk melihat jam, ternyata sekarang sudah pukul lima sore. Hari sudah mulai senja, matahari akan turun dari langit. Dengan malas Aku berjalan mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi , Aku keluar dari kamarku disana aku melihat mama sedang berbicara dengan Nenek dan Tanteku. Aku pun menghampirinya”ada apa ma?”tanyaku sambil duduk sebelahnya. “Oh, ini lho kamu masih ingat Tante Dinda kan?” tanya Mama. Aku mengangguk yakin “ingat Ma, kenapa?” kataku “tadi Om mu telepon katanya Tante Dinda mau melahirkan” jawab Mama. Tante Dinda adalah istri dari Om Yadi, aku masih ingat saat idul fitri kearin kandungan Tante Dinda memang sudah besar. “terus Ma, udah lahir belum bayinya?”tanyaku setelah beberapa saat diam. Mama menoleh kaget “tanya sama Tante mu yang memeriksanya!” jawab Mama sambil melirik kearah Tante Riana. Tante Riana memang seorang bidan jadi untuk memeriksanya tidak perlu dibawa ke rumah bersalin atau rumah sakit. “Baru pembukaan satu ko!” jawab Tante Riana sambil menyirup tehnya. Aku mengangguk, lalu pergi dan masuk ke kamar Kak Reni sepupuku tapi aku senang memanggilnya Kakak karena dia lebih tua dariku.
Di kamar Kak Reni Aku menemukan dia sedang berbicara di telepon. Aku mendekatinya, Kak Reni mengangkat telunjuknya dan menempelkan di bibirnya. Tak perlu ditanya lagi Kak Reni pasti sedang berbicara dengan Kak Derry pacarnya. Sambil menunggu Kak Reni selesai menelepon Aku melihat-lihat koleksi acsseccoris milik Kak Reni yang banyak sekali. Belum beberapa lama terdengar bunyi tombol “Klik”. “Ada apa Rin?” tanya Kak Reni setelah menutup teleponnya dengan Kak Derry. Aku meliriknya dari kaca rias milik Kak Reni “Kak masih inget sama Tante Dinda?” tanyaku tanpa mengalihkan pandangan dari accsesoris miliknya. “Iya ingat kenapa kamu nanya gitu?” jawab Kak Reni. “Kakak tau Tante Dinda kan mau melahirkan, pasti ga tau!” kataku bangga. Kak Reni menghampiriku sambil tersenyum mencurigakan dan menahan tawa “oh ya, sayang banget kayaknya kamu deh yang ketinggalan berita. Aku udah tau dari tadi dong. hahaha!” jawab Kak Reni sambil mencubit pipiku. “Aduh sakit tau, iya bukan? Ko Aku baru tau tadi?”tanyaku sambil memasang wajah yang kesal “Makanya jangan tidur mulu!”jawab Kak Reni “Lagian Aku kan ikut ke rumah Tante Dindanya. Haha”sambung Kak Reni sambil menjatuhkan diri ke tempat tidurnya. Aku semakin sebal mendengarnya, Aku juga sangat ingin melihat orang yang melahirkan sekali saja karena Aku belum pernah mendapat kesempatan.
“Toktoktok” terdengar orang yang mengetuk pintu. Aku dan Kak Reni saling berpandangan “Siapa?” tanya Kak Reni dari balik pintu “Tante ,Ren” jawab Tante Riana di balik pintu. Kak Reni membukakan pintu, Tante Riana langsung duduk di sofa sambil menyalakan CDplayer. Suasana menjadi berisik, ditambah suara kita yang asyik berbincang-bincang. “Halo Patrick ini Aku Spongebob Aku butuh bantuanmu!” terdengar nada dering tanda panggilan masuk dari HP Kak Reni. Kak Reni mengambil HPnya yang dia letakkan diatas meja belajarnya. “Om Yadi!” kata Kak Reni dengan alis terangkat sambil menekan tombol terima.”Halo, kenapa Om?” Tanya Kak Reni ragu. Aku dan Tante Riana saling pandang, tuben sekali Om Yadi menelepon ke Kak Reni. “Oh iya Om iya kita buru-buru kesana, iya, iya!” jawab Kak Reni tergesagesa. Aku dan Tante Riana menjadi semakin bingung “Ada apa Ren?” Tanya Tante Riana “ini lho Tante Dinda mau nglahirin, katanya dari tadi ditelepionin HP Tante ga aktif, kita disuruh buru-buru kesana!” jawab Kak Reni tergesa-gesa. “Oh ya udah ayo cepet berangkat!” kata Tante Riana. Mereka segera bersiap-siap “Aku ikut ya?” tanyaku pada mereka berdua “Iya cepet siap-siap!” jawab Tante Riana sambil mengemasi perlengkapan. Aku segera mengambil jaket di kamarku dan langsung menghampiri Tante Riana dan Kak Reni yang sudah menunggu dibawah.
Waktu sudah menunjukan pukul 11:45 tapi lalu-lintas macet total, untuk mengejar waktu kami putuskan untuk membawa motor saja. Di perjalanan Om Yadi terus saja menelepon. Untungnya rumah Om Yadi tidak terlalu jauh sehingga memakan waktu yang singkat. Setelah sampai di rumah Om Yadi, Tante Riana segera mengeluarkan perlengkapannya dan memeriksa keadaan Tante Dinda. Aku dan Kak Reni hanya bisa berdo’a supaya kelahirannya berjalan lancar. Begitu pula dengan Om Yadi, beliau terus berdo’a sambil menggenggam tangan Tante Dinda. Setelah beberapa saat, terdengarlah suara tangis bayi. “Bayinya laki-laki, alhamdulillah normal” kata Tante Riana yang menggendong bayi itu dan segera di pakaikan handuk. “Alhamdullillah” kata Kami semua hampir berbarengan.
Setelah bayi laki-laki lahir dan dipakaikan handuk agar tidak kedinginan. Tante Riana memeriksa keadaan Tante Dinda “Kayaknya ini harus dibawa ke rumah sakit!” kata Tante Riana. Spontan kita langsung menoleh ke arahnya. “Kenapa?” tanya Om Yadi kaget “Lubangnya robek jadi harus dijahit!” jawab Tante Riana sambil melihat kondisi Tante Dinda “Kan bisa sama kamu jahitnya An?” kata Om Yadi Tante Riana menjelaskan katanya lubangnya robek ke atas bukan ke bawah sehingga sulit menjahitnya jadi harus dibawa kerumah sakit.
Tante Dinda langsung dibawa ke rumah sakit terdekat. Saat itu waktu sudah menunjukan pukul dua dini hari tapi jalan masih tetap padat. Aku dan Kak Reni menaiki motor sedangkan yang lain naik mobil yang di bawa Om Yadi. Karena rumah sakit yang kita tuju ruangannya penuh jadi Kami pergi menuju rumah sakit PMI. Karena Aku dan Kak Reni naik motor jadi Kami tidak bisa ikut lewat jalan tol, terpaksa kita menuju rumah sakit PMI melewati jalan raya. Kami tidak menyangka ternyata jalanan di Bogor sangat lengang, padahal daerah ini termasuk kota. Sepanjang perjalanan Kami berbincang mengenai hal itu.
Mobil Om Yadi sampai lebih dulu dari pada Aku dan Kak Reni. Tante Dinda sudah dimasukan ke ruang UGD. Kita menunggu di kursi kosong dengan hawa yang sangat dingin. Beberapa kemudian dokter yang menangani tante dinda keluar dan member tahu kalau tante dinda disarankan untuk dirawat terlebih dahulu beberapa hari. Setelah berbincang sebentar dengan Tante Dinda. Aku, Kak Reni, dan Tante Riana pulang ke rumah membawa mobil Om Yadi.
Sesampainya di rumah Kami bergegas pergi ke kamar masing-masing. Waktu menunjukkan sudah pukul lima dini hari untuk itu aku putuskan untuk pergi ke kamar Kak Reni dan disana Kak Reni sedang berbincang dengan Tante Riana, tanpa menunggu waktu lama aku pun ikut berbincang dengan Mereka. Malam itu Kami habiskan dengan berbincang-bincang sampai pagi hari.
Sungguh pengalaman yang tak kan terlupakan. Merupakan pengalaman yang berharga melihat seorang ibu memperjuangkan nyawa demi anaknya. Membuat Aku semakin sayang kepada Mama yang sudah mempertaruhkan nyawanya demi melahirkanku. Pagi harinya saat sarapan, Aku melihat Mama yang sedang menyiapkan hidangan. Aku berlari menuruni tangga dan memeluk Mama dengan erat “Aku sayang Mama!” kataku. Mama tersenyum dan terheran-heran mendengarnya. Ku eratkan pelukan kepada Mama dan tak ingin ku lepas. Love you mom.
Pengalaman yang menarik :)
BalasHapus